Membaca nama Goerge Junus Aditjondro, ingatan sebagian Bangsa Indonesia tentu terlintas pada sosok 'pengkhianat bangsa' yang rela menjadi 'anjing' agen intelejen australia untuk menghancurkan NKRI dari dalam. Sepak terjang Goerge J. Aditjondro mulai nampak jelas terlihat saat australia gencar melakukan operasi intelejen untuk memisahkan timor-timur dari NKRI. Goerge J. Aditjondro sangat berperan luas dalam propaganda di dalam negeri Indonesia untuk memprovokasi agar timbul perlawanan terhadap Soeharto dan demi mendapatkan dukungan lepasnya timor-timur dari NKRI, sesuai dengan tujuan dari operasi intelejen australia yang selama ini juga membiayai kebutuhan hidup Goerge J. Aditjondro dan keluarganya. Setelah timor-timor lepas dari NKRI di masa Presiden Habibie dan wilayah itu berhasil dikuasai australia meskipun katanya mereka telah dimerdekakan, aksi Goerge J. Aditjondro tidak terhenti sampai disitu saja. Di masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wachid, Goerge J. Aditjondro mulai mendapatkan misi baru dari agen intelejen australia yaitu mulai melakukan propaganda untuk memisahkan Irian Barat/Papua dari pangkuan NKRI. Misi tersebut pun mulai mendapatkan angin segar saat Gus Dur mengijinkan berkibarnya bendera bintang kejora berdampingan dengan Bendera Merah Putih di tanah Papua. Namun setelah Gus Dur dilengserkan MPR dan digantikan oleh Presiden Megawati, Goerge J. Aditjondro mulai mendapat penghalang untuk kesuksesan misi pesanan dari australia tersebut. Karena sebab itulah, akhirnya Goerge J. Aditjondro mulai melakukan propaganda dengan mengarang buku yang isinya tentang dugaan kasus-kasus yang melibatkan keluarga Megawati. Dari buku itu, diharapkan Megawati bisa dengan cepat lengser juga dari kekuasaanya karena stabilitas nasional yang diharap akan terganggu akibat demo-demo anarkis yang disebabkan hilangnya kepercayaan dari rakyat. Tapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan, bahkan Goerge J. Aditjondro harus kembali gigit jari saat pertama kali berusaha mengobok-obok legitimasi pemerintahan Presiden SBY di periode yang lalu. Sampai sekarang pun aksi Goerge J. Aditjondro belum juga terhenti, lewat hura-hura kasus aliran dana Bank Century dia mencoba kembali untuk mengganggu stabilitas nasional Indonesia di masa kepemimpinan Presiden SBY untuk yang kedua kali ini. Lalu sampai kapankah semua itu akan terus dilakukan oleh Goerge Junus Aditjondro? Maka dari itu sudah seharusnya seluruh Bangsa Indonesia selalu berhati-hati dan tetap waspada terhadap gangguan dan rongrongan dari agen-agen intelejen asing yang ingin menghancur-leburkan NKRI. Baca selengkapnya...
Senin, 21 Desember 2009
Cerpen : PILIHAN CINTA ANNISA
oleh: Djatiputra
Sudah satu jam lebih Amirul duduk di depan TV, dari tadi dia hanya pencet-pencet saja remote TV itu. Ternyata tidak ada satu pun acara yang menarik untuk dilihat. Yang ada hanya talkshow gak jelas, sinetron gak mutu dan berita-berita yang hanya berkutat dengan kasus Bank Century. Penyelamatan Bank Century yang sebenarnya prestasi dari kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian nasional dari krisis moneter, ternyata dijadikan ajang politisasi di DPR dan mendapat makian semata dari media massa. Transparansi aliran dana Bank Century yang seharusnya dituntut untuk dibongkar justru dikesampingkan menjadi permainan penggulingan kekuasaan pemerintahan.
“Ahh… Memuakkan!” Terdengar jelas dengusan kejengahan dari Amirul. Suara murni dari seorang rakyat di Sidoarjo , mungkin juga kejengahan yang sama dirasakan oleh sebagian besar rakyat di seluruh nusantara ini. Meskipun begitu mereka pasti berharap untuk kehidupan yang lebih harmonis di negeri tercinta Indonesia.
Mendadak Amirul terkejut, tiba-tiba hp.nya berbunyi keras terdengar suara kereta api lewat menandakan ada panggilan masuk.
“Hallo…!” Secara spontan dia mengankat hp.nya. Namun tidak ada jawaban dari ujung sana, akhirnya panggilan itu pun diputus. Tidak lama kemudian bersamaan dengan Amirul yang meletakkan hp kembali diatas meja, tiba-tiba hp itu berbunyi lagi dengan tanda sms masuk.
‘Assalamu’alaikum. Maaf tadi hanya tes saja. Lagi coba urut-urutkan nomer hp, apa ada yang aktif gitu. Sekali lagi maaf kalau menggangu’
Amirul tersenyum simpul membaca sms itu, ternyata ada juga yang punya hobbi sama dengannya.
‘Wa’alaikumsalam. Ohh. Tidak apa-apa kok, boleh tahu dari daerah mana ini?’
Amirul membalas sms itu dengan harapan dapat kenalan. Siapa tahu yang punya nomer hp itu cewek, bisa jadi pengusir kebosanan hari ini. Tidak lama menunggu akhirnya sms balasan itu masuk.
‘Ini dari Jombang, tepatnya pondok hapalan Quran ‘Al Furqon’ Jombang. Boleh kenalan tidak? Namaku Annisa mondok di Jombang tapi asli dari Malang.’
Akhirnya dari komunikasi lewat sms itu, mereka berdua menjadi dekat dan semakin sering saling berkomunikasi baik melalui sms maupun voicecall. Kedekatan itu tidak hanya terbatas pada mereka berdua, akan tetapi juga pada keluarga Amirul yang telah diperkenalkan kepada Annisa. Itulah sebabnya keluarga Amirul mendesaknya untuk segera berkenalan dengan keluarga Annisa di Malang. Sebenarnya Amirul pun tidak berkeberatan karena harapan itu pun sama dengannya, hanya saja tiap hal itu diungkapkan Annisa tidak juga memberikan respon. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Annisa dan belum waktunya untuk diceritakan. Amirul pun hanya bisa berharap dengan tetap menjalin hubungan baik dengan Annisa.
Sudah hampir satu tahun keduanya dekat satu sama lain tanpa ada komitmen yang jelas, selama itu pun mereka belum pernah bertatap muka. Sampai-sampai keluarga Amirul sudah tidak percaya dan perduli lagi dengan hubungan keduanya. Sementara di ruang kerjanya, Amirul sedang menyibukkan diri dengan laporan keuangan ‘C.V. BAROKAH’ perusahaan dagang milik keluarganya sendiri. Amirul melihat laptopnya tanpa ekspresi apapun meski terlihat jelas grafik omset penjualan bulan ini menunjukkan peningkatan hingga laba besar dapat diperoleh perusahaanya. Pandangan mata Amirul nampak kosong menatap layar monitor laptopnya, ketika terdengar suara nada panggilan dari hp.nya.
“Hallo… Assalamu’alaikum”. Begitu mengetahui panggilan itu dari nomer hp Annisa, dengan cepat Amirul langsung mengangkatnya.
“Wa’alaikumsalam. Mas Amir, aku sudah ada di sepan kantor.” Terdengar suara lembut bergetar dari ujung sana.
“Ada apa Nisa? Depan kantor mana, kantor saya?” Amirul menjawab dengan sedikit agak kebingungan.
“Iya, Mas. Di kantor sini.”
“Kenapa tidak langsung masuk saja.”
“Iya, Mas. Tapi tidak tahu ini satpam minta ID, Mas.”
Setelah mendengar itu Amirul pun keluar dari dalam kantor. Di depan pos satpam terlihat seorang perempuan berjilbab, senyum manis pun menebar seiring langkahnya yang mendekati tempat itu.
“Maaf, pak wanita ini….” Belum selesai sang satpam melapor ketika melihat kedatangan Amirul, tangan Annisa sudah langsung dipegang dibimbing masuk kedalam kantor.
Begitu sampai di dalam kantor, Annisa diminta duduk di sofa, sementara Amirul mengambil minuman untuknya. Sebenarnya dari hati yang paling dalam Amirul tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada kecantikan sosok Annisa, yang baru pertama kali ditemui meski telah lama saling kenal.
“Silahkan diminum…” Nampak kaku sekali Amirul, lidahnya terasa kelu seperti orang yang hipotermia di kutub utara.
“Terimakasih , Mas,” Annisa menerima minuman teh kotak dengan tersenyum, namun agak sedikit terkejut karena memang teh kotak itu baru keluar dari kulkas jadi terasa sangat dingin sekali.
“Ada apa Nisa, kenapa tidak telepon dulu sebelum kemari?“ Ditanya begitu Annisa hanya menjawab dengan senyum.
Setelah itu keduanya terlibat percakapan yang serius, ada sedikit kegusaran terlihat dari keduanya. Dari percakapan itu Amirul dapat berita yang cukup mengagetkan, ternyata Annisa telah dijodohkan dengan orang lain. Seorang lelaki anak kyai di Madura, kyai itu teman ayahnya semasa menjadi santri dulu, dialah yang menjadi pilihan orang tua untuk menjadi suami Annisa. Mendengar semua itu Amirul tidak dapat menyembunyikan kesedihannya lagi, matanya terlihat sembab seiring do’a-do’a yang terucap dari bibir Annisa yang terdengar khusyu’ mendo’akannya semoga dapat istri yang lebih baik darinya. Annisa pun demikian terharu hingga air matanya jatuh menetes di pipi, suaranya terdengar bergetar semakin lama-semakin tidak jelas terdengar. Seolah adegan di pentas drama, ruangan kerja itu pun seperti berubah mengikuti kesenduan insane di dalamnya.
Bukannya menyerah kalah tanpa perlawanan ketika Annisa pamit pulang untuk kembali ke Jombang, Amirul sudah berkali-kali menyakinkan agar Annisa percaya bahwa dia berani melamarnya meski sudah dijodohkan. Amirul pun berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menyakinkan orang tua Annisa . Dan Amirul pun berani bersumpah akan menerima Annisa apa adanya meski dari kejujuran Annisa tadi, dia tahu ada ketidaksempurnaan dari tubuh Annisa karena cacat akibat kecelakaan. Amirul hanya duduk diam terpaku saat melihat Annisa melangkah pergi keluar dari ruangan kantornya, bahkan rasanya sudah tak sanggup lagi berdiri meski hanya untuk sekedar mengantarkan Annisa sampai ke depan pintu. Amirul tak sanggup lagi menahan air matanya yang menetes jatuh membasahi pipi, keperkasaan sosok lelaki itu akhirnya terlihat rapuh karena seorang wanita. Hanya dalam hitungan menit harapan itu telah musnah, itulah yang selalu teringat dalam kenangan Amirul. Sejak saat itu dia tidak dapat menghubungi Annisa lagi, nomer hp.nya sudah tidak aktif. Beberapa kawan Annisa yang sempat dikenalkan juga tidak dapat dihubungi, seperti telah ada perjanjian dengan Annisa sebelumnya.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Dengan hormat. Mas Amir saya minta maaf mungkin selama ini ada salah, maafkan juga karena sudah lama tidak meberikan kabar berita. Ohh.. yaa! Saya memang sudah tidak punya hp lagi Mas, mungkin selama ini jadi penasaran karena nomer hp saya sudah tidak dapat dihubungi lagi.
Mas, perlu kiranya tahu bahwa saya tidak jadi menikah dengan calon dari orang tua, mungkin orang itu juga bukan menjadi jodoh saya. Sebab karena itulah sekarang pun saya sudah tidak mondok lagi di Jombang, saya pun tidak tinggal di rumah orang tua. Jangan khawatir, saya tidak diusir kok Mas. Saya pergi baik-baik kok, dengan berpamitan dahulu kepada orang tua.
Mungkin Mas Amir penasaran, dimana saya sekarang? Tapi mohon maaf Mas, saya tidak dapat memberitahukan alamatnya. Karena disinilah saya temukan cinta sejati, kebahagian yang hakiki bisa dengan jelas saya dapatkan. Sekali lagi maafkan saya mas, sampaikan salam saya kepada keluarga Mas Amir. Semoga ridho Alloh selalu diberikan ditiap langkah kehidupan kita baik dunia maupun di akhirat. Amien…
Wassalam’ulaikum wr.wb
Amirul menarik nafas panjang, ada rona kelegaan di wajahnya meski dalam hatinya berkecamuk seribu pertanyaan yang membuat sesak di dada.
Demi menjawab semua pertanyaan di hatinya akhirnya Amirul pun berangkat ke Jombang, ke tempat pondok pesantren Annisa dulu. Dari sana Amirul dapat keterangan bahwa Annisa telah memilih bergabung dengan kelompok tarekat yang punya komunitas tersendiri di sebuah pulau terpencil di laut timur. Dari sana pula Amirul mendapatkan alamat dengan denah lengkapnya pula. Justru kini ada keraguan dari hati Amirul, rasanya sudah tidak pantas baginya untuk bersanding dengan Annisa yang telah menemukan Kekasih Sejati. Amirul sadar betul bahwa keinginan untuk selalu dekat dengan Tuhan telah menuntun Annisa menjauh dari hiruk pikuk dunia, termasuk dirinya. Amirul berpikir, sebesar apa dosa yang akan ditanggung bila memaksa Annisa meninggalkan tempat itu? Kalupun dia memilih bergabung dengan Annisa, apakah akan sanggup dan ikhlas menjalaninya? Amirul hanya terdiam seiring langkahnya meninggalkan pondok pesantren Al Furqon Jombang.
Namun semua kecurigaan itu kini seakan hilang sudah, saat ada surat datang yang tertulis Annisa sebagai pengirimnya. Meski tanpa alamat yang jelas, Amirul nampak bahagia membaca surat itu.
Jumat, 04 Desember 2009
PENYELAMATAN BANK CENTURY, PRESTASI YANG DIMAKI-MAKI
Kejujuran semakin langka saja dari bumi Indonesia. Berbagai macam skandal dan rekayasa hukum terlihat jelas dan entah berapa banyak pula jumlah rekayasa politik yang telah terjadi di negeri ini. Hura-hura kasus rekayasa Bibit S. R dan Chandra M. H telah menghentakkan kesadaran public bahwa telah nyata benar-benar terjadi usaha untuk kriminalisasi KPK. Sebagai buntut dari terbongkarnya rekayasa itu adalah adanya pro dan kontra tentang penyelamatan Bank Century yang dinilai tidak menpunyai dasar hukum dan ada penyimpangan aliran dananya.Baca selengkapnya..... Baca selengkapnya...











